MENGEKPLORASI TAFSIR AL-QUR’AN
Oleh : MisbahuddiN
Elo seorang muslim?? So....elo harus baca
tulisan ini, coz kita
selaku mahasiswa yang punya label islam
kadang ngelupain jati diri kita selaku muslim, waktu kita untuk membaca hal-hal
yang sangat subtansial dalam esensi ajaran islam sangat sedikit sekali, kita beragama hanya sesuai dengan apa yang diwariskan oleh
nenek moyang kita dikala kita kecil, dan ketika tumbuh jadi
mahasiswa, kita disibukan dengan hal-hal
yang hanya mempoles perpormen kita doank.
Studi tafsir sangat urgen sekali untuk kita ketahui.
Coz salasatu sumber way of live kita adalah Al-qur’an, dan Al-Qur’an membutuhkan
sebuah tafsiran untuk menyingkap “tabir misteri” di dalam untaian kata-kata
Al-Qur’an, kaum muslimin meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Firman Allah swt
sebagai mu’jizat yang diturunkan kepda
Rasululah Saw melalui malaikat Jibril,
yang tertulis didalam
mushaf-mushaf, yang diriwatkan secara mutawatir , beribadah dengan membacanya, yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat
An-nass. ( Muhamad Ali As-Sobuni, At-Tibyan fil
Ulumil Qur’an).
Sungguh tragis wahai kawan sekarang banyak para akademis, mulai menggunakan metode dan
sikap skeptis dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, Al-Qur’an dipandang
sebagai teks historis (muntaj as-saqofi) yang relatif
kebenarannya, temporal, dan kondisional, termasuk menafsirannya.
Ello harus tahu brow...!!!..di UIN Sarif Hidayatullah jakarta diajarkan mata
kuliah “hermetika dan semiotika” sebagai mata kuliah prasarat dasar-dasar ilmu al-Qur’an dan Hadist. Mata
kuliah ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami, menjelaskan, dan menerapkan
ilmu hermenetika dan semiotika terhadap kajian Al-qur’an dan al-hadist.Nasr Hamid abu zayd, Muhamad shahrur, dan Amina Wadud
adalah diantara cendikiawan yg
ide-idenya dijadiakn sebuah reperensi utama (reperention primary) pembaharuan di bidang tafsir dengan melempar
jauh-jauh tafsir para Ulama terdahulu.
Para cendikiawan yang taklid abizz/ pens berat orientalis, mereka mengnganggap
bahwa metode hermenetika adalah metode yang ilmiah banget gitu lhoooh
....dalam interpretasi Al-Qur’an, lebih kontekstual dan tidak bersipat
dogmatis sektarian dalam istilah ke’re’n nya...di sebut “a’qaidiyyah
madhabiyyah”, mereka mengnganggap orang
yang berpegang pada tafsiran ulama klasik (Salaf) sebagai orang yang lebay
abizz, gokil banget, ortodok, konserpatif dan gelar-gelar yang lain, yang
bersipat melecehkan.
COZ
that....karya-karya kaum orientalis dan karya-karya para cendikiawan
penzz berat orierientalis pun
dijadiakan kajian utama di beberapa perguruan tinggi yang banyak
diterjemahkan kedalam bahasa indonesia,
dan apakah di STAI FUBLISISTIK
THAWALIB terjadi hermenetikasisasi
dalam mengekplorasi ilmu-ilmu agama ??.
SO....Ello akan
dapatkan di dalam tulisan ini hasil eksplorasi tentang karakteristik ilmu tafsir yang meliputi definisi, ilmu-ilmu
penopangnya, metode dan tren tafsir
dalam mengukuhkan universalitas dan Finalitas wahyu Al-Qur’an.
DEFINISI DAN PENOPANG
ILMU TAFSIR
Tafsir secara etimologi, berarti menjelaskan dan menyingkap
( al-Bayan wal kashaf ). sedangkan makna termonologi adalah ilmu untuk
memahami kitabullah yang diwahyukan pada Rasululaah Saw, menjelaskan
makna-maknanya, menggali hukum2 nya, dan hikmah yang terkandung didalamnya. Ilmu tafsir senantiasa ditopang oleh ilmu bahasa, ilmu nahwu (arabic
grammar), ilmu sharaf (morpologi), ilmu bayan (rhetoric,
sistematika, dan metode penjelasan, yang dengannya diketahui keindahan bahasa
Al-Qur’an ), ushul fikih (kaidah-kaidah dan dasar ilmu fikih) dan
ilmu qira’at (ragam bacaan yang diperkenkan
secara mutawatir) ashbabul nujul (sebab-sebab turun nya ayat-ayat
al-qur’an), dan ilmu nasikh wal mansukh (abrogation : ayat yang
mengesampingkan ayat lain dan ayat yang dikesampingkannya). Wah banyak kali kan penopang ilmu tafsir...!!! jadi yang berbicara tentang tafsir Al-qur’an gk boleh
sembrang orang broo..!!!.
Coz Al-Qur’an memiliki berbagai dimensi maka dalam
kaidah ilmu tafsir, seorang penafsir Al-Qur’an harus menguasai beberapa ilmu
perangkat atau ilmu alat., diantaranya sbb :
a)
ilmu bahasa arab. Coz Al-qur’an diturunkan dalam bahasa arab maka
sesorang tidak dapat menghindari dari prasarat ini dalam penafsiranya, ilmu bahasa memberi
informasi tantang makna setiap kata yang terkandung dalam Al-Qur’an dan
perbedaan maknanya sesuai konteks penggunaanya dalam berbagai ayat (ma’na
mustarak), lebih dari itu mufasir harus mengetahui makna asli sebuah kosa kata
di jaman turunya wahyu, yaitu sebelum
terjadi perubahaan makna dan
perkembanganya seiring denga perkembangan jaman.diantara aspek ilmu bahasa yang
yang harus dikuasai mufasir adalah mutaradif (sinonym)
mushtarak (makna yg tergabung dalam
sebuah kata, coz dlam bahasa arab satu
kata bisa memiliki banyak arti), ilmu nahwu,
ilmu sharaf, ilmu bayan,
b)
Ulumul Qur’an meliputi
pengetahuan tentang asbabul nujul,(sebab turunnya ayat), pengetahuan tentang
ayat2 makkiyyah dan madaniyyah, nasikh wal mansukh ( penghapusan ayat ), ayat
muhkamat (ayat-ayat yang jelas dapat dipahami), ayat mutasabihat (ayat-ayat
yang samar, yang memiliki ragam pemahaman).
c)
Ushul ad-Dien (ilmu tauhid), ini dikarenakan al-Qur’an membawa
pemahaman baru tenntang alam, kehidupan dan manusia yang bermuara kepada aqidah
al-islam (islam worldview). So.. orang yang aqidahnya tidak benar, besar
kemungkinan akan memahami dan menafsirkan al-Qur’an secara salah.
d)
Ushul fiqih (kaidah-kaidah dan dasar-dasar ilmu fiqih), diantara
kandungan al-qur’an adalah hukum dan syari’at. Pemahaman dan penguasaan
terhadap ilmu ini , sangat urgen sekali dalam
mengambil kesimpulan tentang hukum-hukum
yang terkandung dalam berbagai ayat, for example gw kasih contoh kata
perintah dalam al-qur’an bisa berarti
wajib, sunnah, atau mubah.
e)
Hadis , why.....seorang mufasir harus menguasai hadis??.
Coz Rasululaah banyak menjelaskan ayat-ayat dalam sabdanya, sebab tugas utama
beliau adalah menjelaskan wahyu kepada umat.
f)
Ilmu-ilmu lainnya, seperti sains, logika, falak, fisika, kedokteran,
tarikh, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial lainya. Ini diperlukan untuk
menafsirkan ayat-ayat kauniyyah dalam al-qur’an yang perlu dicari kesesuaian
dengan ayat-ayat kauniyyah dalam fenomena alam.
So....bagi elo yang pengen menjadi mufasir yang besar,
ternyata masih banyak ilmu yang harus elo pelajari brow....!!, atau mungkin
jadi mufasir besar sesuatu ambisisi yang terlalu idealis banget menurut elo,
kalo begitu minimalnya kita punya wawasan yang mencukupilah tentang masalah
agama, dikala masyarakat bertanya sesuatu kita bisa memberi penjalasan pada
mereka.So...Jangan membuat kampus FUBLISISTIK THAWALIB menanggung malu
di depan masyarakat di masa mendatang, jangan sampai terlontar perkataan dari
mereka “hari gienieh......sarjana islam enggak tahu apa-apa....!!! ke laut az deah...!!!”.
wallahu a’lam bishowwab.
Oke....brow .pembahasan ini kita lanjutin di edisi
berikutnya.........good luck....!!!!






0 komentar:
Posting Komentar