Jumat, 12 Oktober 2012

PENDIDIKAN KARAKTER … mmm " $ % @ *_* ???




                Istilah apa lagi sih ini? ini pertanyaan yang menggambarkan kekesalan ku pada pemerintah. banyak konsep=konsep pendidikan yang secara konseptual, aku sadari sungguh mantab dan penuh dengan idealismian. tetapi sayang di alam realitasnya jauh sepeti apa yang dikonsepkan dalam dunia pendidikan Indoensia.
            
Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti to engrave atau mengukir. Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dari sanalah kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku.
           
secara sederhana pendidikan karakter itu adalah pendidikan akhlak. islam sudah membahas pendidikan karakter ini jauh lebih dulu, terbukti dengan ungkapan Rasulullah “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak mansuia “. pendidikan karakter yang baru-baru ini digaungkan ini adalah imbas dari moral para peserta didik yang penuh dengan dekandensi moral. terlalu banyak kasus dan peristiwa yang menggambarkan rusaknya moral para generasi bangsa.  mulai vidio jina anak Smp. banyaknya aborsi. banyaknya penguna obat-obat terlarang darim kalangan pelajar.  kasus tawuran para pelajar smk yang baru-baru ini terjadi. WoOOW luar biasa!!.  Hal inilah yang menjadi “ asbabul nujul “  digaungkannya  wacana pentingnya pendidikan karaker sejak dini.

Komentar Para Pemikir Muslim Mengenai Pendidikan Karakter
           
Para pemikir muslim sejak awal telah mengemukakan pentingnya pendidikan karakter. Ibn Miskawaih (320-421H/932-1030 M), adalah ulama klasik yang mendalami filsafat etika sehingga dikenal sebagai Bapak Etika Islam. Dalam bukunya yang berjudul Tahdzib al-Akhlaq Ibn Miskawaih mengemukakan pentingnya dalam diri manusia menanamkan kualitas-kualitas akhlak dan melaksanakannya dalam tindakan-tindakan utama secara spontan. Menurutnya, akhlak adalah "keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu”. Ia menyebutkan adanya dua sifat yang menonjol dalam jiwa manusia, yaitu sifat buruk dari jiwa yang pengecut, sombong, dan penipu, dan sifat jiwa yang cerdas yaitu adil, pemberani, pemurah, sabar, benar, tawakal, dan kerja keras”.
           
Al-Ghazali (1058-1111M) “ akhlak harus menetap dalam jiwa dan perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran yang mendalam atau penelitian terlebih dahulu. Akhlak bukan merupakan "perbuatan", bukan "kekuatan", bukan "ma'rifah" (mengetahui dengan mendalam). Yang lebih sepadan dengan akhlak itu adalah "hal" keadaan atau kondisi jiwa yang bersifat bathiniah

Pendapat Para Pimikir Barat Mengenai Pendidikan Karakter

Socrates (469-399 SM) menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang paling mendasar membentuk individu menjadi baik dan cerdas (good and smart). “Goodness is knowledge … to be good at something os a matter of knowledge".
            
Plato (428-348 SM), murid Socrates merefleksikan pemikiran gurunya untuk hal yang lebih makro dari sekedar kebajikan individu menjadi negarawan yang baik . Dalam bukunya yang terkenal, Republic, ia mengungkapkan idenya tentang pendidikan, bahwa agar anak dapat meraih kebenaran dan kebajikan diperlukan pedoman yang jelas moral agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

Aristoteles (384-322 SM), murid Plato juga mengarahkan pendidikan kepada kebajikan atau nilai (virtue) individu. Kebajikan atau nilai (virtue) itu mengandung dua aspek yaitu intelektual dan moral. “Intelectual virtue in the main owes both its birth and its growth to teaching, while moral virtue comes about as a result of habit.” (Charless Hummel, Aristotle, p.2).  

Emile Durkheim (1858 –1917) seorang sosiolog dari Prancis mengatakan, bahwa masyarakat harus memiliki nilai-nilai yang baik sebagai kontribusi warisan moral. Lebih jauh ia mengatakan,“Society must have some good to achieve, an original contribution to bring to the moral patrimony of mankind. Idleness is a bad counselor for collectivities as well was individual. When individual activity does not know where to take hold, it turns against itself. When the moral forces of a society remain unemployed, when they are not engaged in some work to accomplish, they deviate from their moral sense and are used up in a morbid and harmful manner.”(Emile Durkheim, Moral Education, London: Free Press of Glencoe, 1973, p. 13)

Sebuah Renungan mengenai pendidikan karakter

ada sebuah kaidah dalam pendidikan islam, yang digaungkan para ulama, yang memilki nilai pelajaran yang sangat dalam untuk direnungkan.
الطٙارِقاةُ اٙهٙم٘  مِنٙ المٙآدّةِ وٙالمُدّٙرِّسِ اٙهٙم٘  مِنٙ الطّٙارِقٙةِ وٙالرُوْحُ المُدٙرس اٙهٙم٘ المُدٙرس

Metode lebih penting dari pada Materi Ilmu, dan Pengajar lebih penting dari pada sebuah Metode. dan Ruh Pengajar lebih Penting dari pada Pengajar.
           
Sungguh sala satu kelebihan ulama adalah,  perkataannya ringkas tetapi maknanya sungguh sangat dalam. Kaidah membuka alam pikir kita untuk melihat dunia pendidikan secara konseptual. sebuah metode yang bagus yang digunkan oleh seorang pengajar lebih penting dari pada materi, walaupun materinya sederhana tetapi jika dikemas dengan metode penyampaian yang bagus pasti akan membuat peserta didik terkesan. akan tetapi pengajar posisinya lebih tinggi dan lebih tinggi dari sebuah metode. kenapa?? karena apalah guna metode yang bagus tetapi tidak ada yang menggunkan metode tersebut, yaitu guru. dan hirarkis selanjutnya adalah ruh pengajar lebih penting dan lebih berharga dari pada pengajar itu sendiri. ruh pengajar ( karakter mulia pengajar ) adalah inti perubahan. ruh atau mentalitas jiwa merupakan setruman yang dahsat untuk membentuk karakter para peserta didik.
            
Ruh seorang guru adalah pewarna jiwa peserta didik, ada sebuah ungkapan “ bila guru kencing berlari maka murid akan mengencingi guru “. karakter guru yang rusak yang tidak menggambarkan pfopil guru teladan pasti akan melahirkan peserta didik yang rusak. hati akan dapat disentuh dengan hati “ hate can be touched by heart “.  jika pengajar tidak tidak menggunkan hati dalam pembelajarannya maka pasti akan sulit untuk menyentuh jiwa dan mewarnai karakter peserta didik.
            
salah satu problem solving untuk membangun mentalitas yang luhur para peserta didik adalah denga  memulainya dari para aktivis pendidikan itu sendiri. peserta didik tidak akan menjadi “ bernafsu “ membaca buku-buku jika gurunya tidak suka baca buku, peserta didik tidak akan disiplin jika gurunya sendiripun tidak disiplin tepat waktu kesekolah. peserta didik tidak akan menjalin hubungan yang mesra dengan Allah jika gurunya sendiri sholatnya terbenhgkalai. Soo sala satu faktor pembangunan karakter peserta didik di awali dari Insan_insan Aktivis pendidikan itu sendiri untuk memberi Tauladan dan mengaflikasikan konsep Ilmu itu ke dalam dunia nyata yang tervisualisasikan oleh para peserta didik.
            
maju mundurnya sebuah negara tergantung kualitas para guru-gurunya selaku Agent of Changenya negara menuju Indonesia yang lebih baik. ingatkan ?. perdana mentri jepang ketika hirosima dan nagasaki dibom. pertanyaan yang diajukan pertama kali diajukan adalah, “ berapa orang lagi guru yang masih hidup “ pendidikan lah yang menjadikan jepang lebih progres perkembanganya lebih cepat dari pada Indonesia. dan perubahan ke arah yang lebih baik itu diawali dari personil-personil aktivis pendidikan itu sendiri yaitu Guru. Semoga kita menjadi para agent of Change yang memilki kemurnian jiwa. karater yang agung dan selalu ingin berkontirbusi sebagai ivestasi untuk hidup dan kehidupan demi mendapatkan kehidupan yang Full nikmat dan keberkahan di dunia dan diakhirat. Aamiin.

Kematian Jurnal Kampus Thawalib JAUHAR ALHAYAH




Ampir 4 bulanan jurnal kampus Thawalib  jauhar alhayah mematikan diri, tidak ada tulisan yang baru, wacana baru dan pencerahan baru. off nya jauhar alhayah sebagai Agent penghidup tradisi keilmuan dan oase bagi terjaganya atmospir kaum intellektualis  muda thawalib karena  beberapa sebab yang semua hal itu insaallah bisa diambil pelajaranya agar jauhar tetap hidup sampai kami lulus S1, atau bahkan mudah-mudahan amal baik ini bisa diteruskan oleh teman-teman yang menjabat di BEM selanjutnya.
            
hal ini kami tulis sebagai bahan renungan bagi kita semua, mengapa jauhar waktu kebelakang mematikan dirinya dari amal baik ini, yaitu menulis demi sebuah eksistensi dan amal kebajikan.

Kaum Intelektualis Yang Kritis Tanpa Mendongkrak Semangat Kaum Muda
           
Dalam mengistiqomahkan sebuah amal kebaikan pasti disana akan diuji mentalitas kita, sebagaimana dakwah pasti tidak akan terlepas dari apa yang namanya rintangan  dan tantangan dakwah.  saya merasa down ketika ada sebuah celetukan dari seoarang yang dari tingkat pendidikanya lebih tinggi dari saya, beliau berkata begini : “ seoarang Utadz ( Agent of change secara umumnya)  itu banyak dosa, karena banyak bicara atau menulis  materi, tetapi diri sendirinya tidak berubah. “ . perkataan ini yang membuat jauhar mati kutu. karena toh jauhar belum bisa menjadi Agent of change untuk menghidupkan tradisi keilmuan dan pembangunan karakter secara 100 %.
           
sungguh jika kita terlalu banyak mendengarkan manusi, kita akan bingung sendiri, dan lebih-lebih bisa down tidak mau bergerak dan berkarya dengan alasan takut diktirtik. jika saya renungkan hal tersebut. saya mencoba berfikir jernih, menyampaikan yang kita tahu itu wajib hukumnya, “ Balighu ani walau ayah “ sampaikan walaupun satu ayat. itu pesan nabi. dan ilmu itu harus diamalkan, karena Allah sangat murka orang yang bicara tetapi tidak berbuat. dan ilmu yang diamalkan itu akan memberi dampak perubahan jika dilakukan dengan istiqomah, ya.. perubahan memerlukan proses. dan Jauhar baru 3 tahun eksesi menulis.  ya maklum jika belum memberikan kontirubsi dan perubahan nyata. hehe ..
           
karena pertimbangan diatas,  kami memilih untuk terus bergerak menulis sambil memerbaiki diri. dan meluruskan niat bahwa menulis adalah sebagai amal kebaikan, menulis adalah sebuah kontribusi nyata untuk hidupnya tradisi keilmuan dan memberikan oase kesegaran agar agama Islam membumi di hati-hati anak muda. yup..!!, walaupun dalam sekala kecil yang penting kami sudah memberikan sesuatu untuk agama. dan kami yakin hal ini akan dibalas oleh Allah diakhirat kelak.

Pola Pikir Yang Sesat
           
“ beramal sholeh ketika dihinggapi rasa riya maka amal itu harus ditinggalkan agar memurnikan keimanan kita”. pola pikir ini ya memang salah, jika kita menunggu hati agar benar-benar ikhlas untuk beramal kebaikan, untuk memberi mampaat kepada orang lain habislah umur kita. maka untuk membongkar kebiasaan lama dalam berfikir ini,  kita harus menanamkan pola fikir. beramalah kebajikanlah harus terus dilakukan sambil terus meluruskan niat. tidak ada manusia dimuka bumi ini,  baik yang awam ataupun yang berilmu yang terlepas dari penyakit Ria    ( ingin di puji ). saya menemukan perkataan ulama Fudhail Bin Iyad, yang sungguh luar biasa,   “ Meninggalkan amal karena manusia itu adalah ria, dan beramal karena manusia adalah  adalah syirik. ikhlas itu adalah Allah meyelamatkan dari pada kedunaya“. perkataan yang sungguh luar biasa sekaligus memberikan jawaban untuk kegalauan saya. ya betul.. amal kebaikan harus dilakukan kerana Allah semata, jika tidak. gugur semua amal kita dihadapan Allah walaupun amal kebaikan itu sebesar gunung himalaya. dan amal kebaikan juga jangan ditinggalkan karena sebab takut riya, takut dipuja dan dipuji manusia.

Tidak Ada Ukhuwah Dalam Kebaikan.

mengerjakan sebuah pekerjaan akan terasa lebih ringan dengan bersama-sama. dan pekerjaan akan terasa sulit untuk diistiqomahkan jika para tokoh peradabanya Cuma hanya bisa berkata-kata tanpa sebuah bukti nyata. pola pikir ini jika direnungi ternyata tidak betul. saya merenung, kebaikan itu bisa dikerjakan sendiri bisa dikerjkan bersama-sama, jika amal baik itu belum bisa dilakukan secara bersama-sama,  toh ternyata itu bisa laukan oleh 1 atau 2 orang. yup lakukanlah dengan maksimal. jika amal kebaikan itu diniatkan kerana Allah masa Allah tidak membantu, masa Allah diam-diam saja. nah karena saya dapat ilham seperti itu saya harus terus menulis demi kebuah kebaikan dan pencerahan demi hidupnya tradisi keilmuan mahasiswa.

Sebuah Pencerahan Yang Mantabbb !!!
           
seribu alasan bisa diutarakan, ya karena kita pintar untuk mencari-cari alasan dan menyembunyiakan tanggung jawab dibalik itu semua. kehidupan begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil, jika kita mau berfikir. filosofi hidup yang harus diufgrade terus. hidup di dunia adalah tempat menanam kebaikan yang akan dipetik buahnya di negri akhirat. hal ini memberi semangat saya untuk terus memberikan sesuatu yang bermampaat untuk hidup dan kehidupan karena mengharaf ridho Allah semata. jangan memperdulilan kritikan manusia kepada kita, ambil krirtikan yang membangunnya dan enyahkan kritikan yang membuat diri kita down.

pelajaran yang selanjutnya, kita harus menenangkan diri selalu dalam mengistiqohkan sebuah kebaikan. mari kita renungkan amal baik apa yang kita sudah istiqomahkan untuk investasi kita di negri akhirat. sudah sejauh mana persiapan kita menghadapai kehidupan yang sebenarnya nanti. ya .. ternayata persiapan kita belumlah banyak. kita lebih “ buas ” dan    “ ganas” mengerjar dunia dan lupa untuk menjadikan diri buas, dan tamak untuk mengumpulkan pundi-pundi kebaikan untuk bekal hidup yang sebenaranya.
Tulisan Sebagai Investasi Kebaikan.
           
Jauhar alhayah yang memasuki tahun ke 4, ya... berbarengan dengan usia kami di thowalib yang sekang menunggu waktu jatah umurnya beberapa bulan kedepan untuk hidup di thawalib. mudah-mudah ada teman-teman mahasiswa yang melanjutkan perjuangan ini untuk menghidupkan tradisis keilmuan mahasiswa. agar kita tidak menjadi maha siswa kupu-kupu.
            
Sobat Jauhar yang ingin investasi kebaikan lewat tulisan silahkan kirim tulisanya ke Mesti Farah atau Slamet semester 7. atau bisa dikirim langsung ke alamat email agent_of_change@yahoo.com. Sahabat yang  ingin baca-baca tulisan jauhar selama 3 tahun dapat di buka di misbahuddin1234.blogspot.com. Mari Kita Menjadi Insan-Insan Yang Suka Berbuat, Bukan Menjadi Insan-Insan Yang Suka Bicara Tanpa Berbuat !!.

Para Pemimpin Yang Lupa Diri




      Indonesia dulu dijajah oleh orang non pribumi. tetapi sekarang indonesia di jajah oleh saudaranya sendiri. para pejabat wakil rakyat ternyata lupa kepada rakyatnya. begitu nyata peristiwa dimata kita, ketika rapat-rapat di gedung DPR-MPR tidak sedikit mereka yang tertidur pulas, belum lagi kekicruhan rapat yang diselesaikan dengan ala preman tanah abang, maen jotos maen sikat tidak sadar bahwa tindak tanduk mereka dilihat oleh rakyat. belum lagi berita tentang kondom-kondom yang banyak ditemukan di gedung tempat dimana kebijkan-kebijakan negara dibuat. emmm miris memang mendengarnya... mau dimana kemana negara kita.

BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI UMAR BIN ABDUL AZIZ
     
Umar bin abdul aziz menjabat tonggak kepemimpinan begitu singkat, Cuma 2 tahun belaliu memimpin, tetapi kemimpinan dari seoarang yang bertaqwa begitu terasa pengaruhnya. konon katanya saking berkah dan damainya negara yang dimimpin umar, serigala tidak ada satupun yang memakan binatang ternak miliki warga. subhannallah!, kedamaian dan keberkahan hidup jaman itu tidak hanya dirasakan oleh rakyat, tetapi, sampai binatang ternakpun ikut merasakan kedamaian itu.
      
ada sebuah peristiwa yang menarik, yang sungguh luar biasa, tidak akan didapati peristiwa itu di jaman sekarang. ketika kholifah Umar Bin Abdul Aziz di bai’at, beliau menangis tersedu-sedu. beberapa penyair datang kehadapan beliau bermaksud untuk menghiburnya, tetapi beliau menolak. melihat ayahnya menangis seharian, anaknya mencari apa penyebabnya, tetapi tidak berhasil. istirinya fatimah lantas menemuinuya dan bertanya, “ wahai suamiku, mengapa engkau menangis seperti itu “.
     
Umar menjawab. “ sungguh aku telah diangkat untuk memimpin dan mengurusi urusan-urusan umat nabi Muhammad saw. aku termenung memikirkan nasib fakir miskin yang sedang kelaparan. orang sakit yang tidak bisa berobat, orang yang tidak bisa membeli pakaian, orang yang selama ini di dholimi dan tidak ada yang membela. orang yang mempunyai keluarga besar tetapi memilki sedikit harta. orang tua yang tidak berdaya, orang yang ditawan atau diupenjara, serta orang yang bernasib menderita di pelosok negri ini. aku sadar dan tahu bahwa Allah pasti akan meminta pertanggung jawabanku atas amanah ini. namun, aku khawatir tidak sanggup memberikan bukti bahwa aku telah melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga aku menangis”. lalu belaiau pun membaca surat Yunus : 15. “ sesunggunya aku takut kepada siksa di hari yang besar ( Qiamat ) jika mendurhakai Tuhanku.
      

adakah pemimpin sekarang yang memilki karakteristik seperti itu, pemimpin yang memilki kesadaran eksatologis, kesadaran akan pertanggung jawaban di hari akhir seperti Umar Bin abdul aziz.  faktanya kita melihat para memimpin kita seringnya berpesrta pora berkedok syukuran ketika mendapat kemenangan  dalam pemilu, padahal amanah yang diberikan kepadanya itu sungguh berat  dan harus dipertanggung jawabkan dihadapan publik dan didepan pengadilan Allah.

PEMIMPIN YANG BUAS DAN RAKUS
      
jika kita amati dari para memimpin dalam berbagai tingkatan apapun itu banyak mengumbar janji-janji kosong, beretorika dengan indah. tetapi setelah mendapat tonggak kekuasaan mereka lupa. janji memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya, toh ternyata setelah memimpin malah para kadernya yang korupsi dan peristiwa yang sangat miris, Meraka sulit dijamah oleh hukum. tidak semudah seoarang ibu yang mencuri susu untuk anaknya lalu dipenjara atas alasan hukum harus ditegakan.
      
ketika syahwat politik untuk berkuasa begitu membara., seseorang biasanya menjual diri dengan janji-janji politik yang muluk-muluk. tetapi ketika berkuasa, ia cedrung lupa dan tidak sadar diri, janji tinggalah janji. keadilan tidak ditegakan. kekuasaan dijalankan menurut hawa nafsunya. rakyat dilupakan, bahkan disengsarakan.
     
begitulah potret penguasa yang lupa diri sekaligus lupa kepada peradilan Allah, lupa bahwa segala sesuatu apalagi kepemimpinan pasti akan diminta pertanggung jawabanya. Allah berpesan kepada kita. “ Janganlah Kamu Seperti Orang-Orang Yang Lupa Kepada Allah, Lalu Allah Menjadikan Diri Mereka Sendiri Lupa Kepada Diri Mereka Sendiri. Mereka Itulah Orang-Orang Yang Fasiq.( Q.S Al-HasyR : 19 ).
      
pera pemimpin harus sadar, dan kita juga harus sadar bahwa kita juga adalah pemimpin. apalagi yang diamanahi menjabat roda pemerintahan Thawalib. pada hakikatnya semua adalah amanah dan amanah akan diminta pertanggung jawabanya.  sosok Umar Bin Abdul Aziz adalah sosok pribadi dan pemimpimpin yang luar biasa. mudah-mudahan kita bisa membentuk diri kita menjadi pribadi yang jujur dan tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan kepada kita. Wallahu ‘Alam.

Ketika Al-Qur’an Di Campakan ......



“ sesunggughnya Allah meninggikan derajat seseorang dengan Al-Qur’an dan merendahkan seseorang yang lainnya denganya pula “ ( Hadits Riwayat Muslim )
           
            Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim.  tetapi  yang menarik adalah, kenapa indonesia yang  mayoritas muslim tenyata Juara ke 3 dalam bidang korupsi. yang mengantarkan masyarakatnya kedalam jurang kesengsaraan, karena dana kemakmuran yang seharusnya untuk rakyat disedot abis oleh para wakil rakyat. sungguh luar biasa !.
            para pemuda generasi bangsa lebih sibuk mengikuti kontes-kontes nyanyi atau sebagainya. energi masa muda, kekuatan fikiran, kekuatan fisik hanya tersalurkan untuk hal yang seperti itu. jika kita meneropong sejarah para pemuda jaman perjuangan, mereka memaksimalkan masa muda mereka untuk berjuang, mengabdi kepada Allah untuk membela negara. dan memupuk perjuangan bersama dengan sebuah idealisme yang begitu tinggi yaitu menjadi negara yang merdeka.

Jiwa pemuda yang Jauh dari Sentuhan Al-Qur’an
           
                 hal yang begitu indah untuk dirasakan adalah ketika ba’da magrib anak-anak sibuk membaca Al-qur’an di Masjid. dan para orang tua pun membaca Al-Qur’an di Rumah-rumah mereka sambil mengistirahatkan tubuh mereka. tetapi sayang! hal ini tinggal kenangan kawan, yang dulu terdengar suara indah dan lucu dari anak-anak mengaji sekarang diganti dengan obrolan-obrolan dan candaan dijalan-jalan dan diwarung, dari Rumah-rumah penduduk yang tadinya terdengar sura indah dendangan jiwa ketika membaca Al-Qur’an, kini digantikan dengan suara-suara televisi yang menyuguhkan sinetron-sinetron yang Indonesia banget, LEBAY ABIs !! yang bisanya hanya berteriak-teriak, melotot-melotot dan nangis-nagis, tidak lebih dari itu.
            
           kemunduran umat Islam karena mereka sudah mencampakan Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai hiasan di lemari. para pemuda dan pemudi lebih asyik mengupdate STATUS lewat FB dari pada mengUPDATE KEIMANAN lewat Tilawah Al-Qur’an dan Dzikir. ya ini adalah sebuah realitas. peta pemikiran para generasi penerus bangsa secara tidak sadar sudah dicekoki dengan konsep pemikiran barat yang Materialistik dan hedonisme. pokokek mumpung masih muda kita senang-senang. muda poya-poya, Tua masuk surga. orientasi hidup hanya untuk kesenangan jasmani, sibuk memoles penampilan tetapi lupa untuk memoles keindahan jiwa.


Bukti Iman adalah mencintai Al-Qur’an
                       
            Hal yang sederhana untuk mengukur kualitas keislaman dan keiman kita adalah dengan seberapa dekat kita dengan Al-qur’an.  seperti seorang yang mencintai sesuatu pasti dia ingin mendapatkannya, dan selalu ingin bersamanya setiap saat dan setiap waktu tuk menemani disetiap hela nafas. maka kita bisa menilai orang yang mengaku cinta, tetapi tidak mau dekat-dekat atau bahkan acuh tak acuh dan tidak perhatian kepadanya. maka cinta dia pasti DUSTA. cinta yang palsu. maka begitu juga dengan kualiatas keislaman kita ukurannya adalah seberapa cinta dan dekatnya dengan Al-Qur’an ..... yup sama-sama merenung dan membaca diri apakah kita benar-benar Islam. atau kita hanya Islam KTP saja.
           
           Utsman bin Affan berkata “ andai hati kita bersih, niscaya tak ada kebosanan membaca Al-qur’an”. maka takala hati kita tak bergairan untuk “bercumbu “ dengan Al-qur’an. dan ketika hati kita tidak merindukannya dalam selang waktu yang lama, berarti ada “ sesuatu “ yang tidak normal dalam hati kita. cinta yang normal adalah cinta yang menghasilakn keingginan yang menggelora untuk bertemu dan berinteraksi denganya.
            
          Perkataan menarik dari sang panglima perang Islam, Kholid Bin Walid, “ Jihad telah menyibukan aku darimu”, kalaulah bukan karena jihad, niscaya beliau selalu ingin bersanding dan “ bercumbu “ terus dengan Al-Qur’an.
      
      kta bisa meraba dan melihat diri kita, sejauh manakah keimanan kita? sejauhmanakah keislaman kita kawan?. semua bisa terbeca di dunia Tafakur dan muhasabah kita. sungguh beruntung manusia yang selalu menghisab ( mengintropeksi diri ) dengan kualitas imanya dan menyiapkan amal untuk kehidupan yang abadai. sebagaimana petuh Umar Bin Khotob, “ hasibu Anfusakum Qobla Antuhasabu “ _ Hisablah / hitung-hitunglah amal kalian sebelum kalian dihisab. sungguh perkataan filosofis yang begitu luar biasa. ini adalah sebuah perkataan yang barasal dari akal yang tajam dan hati yang dipenuhi dengan keimanan.

Ketika Ibnu Qoyyim Berkomentar
          
        Ibnu Qoyyim mengatakan, ada tiga tipe hati mansia, pertama hati yang mati, wujudhu ka’adamihi ( adanya seperti tidak ada ). hatinya ada tetapi adanya seperti tidak ada. hatinya tertutup ketika kebenaran sisampaikan. ayat-ayat Al-Qur’an tidak mampu menembus “ alam ruh “nya, karena hatinya sudah terkunci mati. hal ini seperti yang digambarkan dalam surat Al-Baqoroh ayat 7.
            
        “ Allah telah mengunci mati hati  dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutu, dan mereka akan mendapat adzab yang berat “
            
kedua, hati yang sakit ( Qolbu Marid ) hati yang sakit. hati yang lalai dari peringatan Allah, tetapi  diwaktu yang lain dia begitu khusu’ membaca dan mengupgrade keimanannya dengan Al-Qur’an. hati yang sakit ini harus diobati, dan obatnya adalah mengistiqomahkan dalam keta’atan.
            
ketiga, hati yang hidup ( Qolbu hayun),  hati ini, hati yang selalu hidup dalam atmosfir ketuhan, segala amal dia niatkan karena Allah. hati ini, hati yang sudah kecanduan dzikir, sholat malam dan menela’ah Al-Qur’an. terus menata hati adalah kesenangannya. hati ini, adalah hati yang memancarkan cahaya ilahi, hati yang selalu menebarkan kebaikan dan kebenaran.  mudah-mudahan Allah menjadikan hati kita seperti ini, Hati yang senantiasa hidup

Minggu, 30 September 2012

Renungan Subuh

Hidup adalah anugrah, terimalah.
Hidup adalah tantangan, hadapilah.
Hidup adalah penderitaan, atasilah.
Hidup adalah pertandingan, menangkanlah.
Hidup adalah kewajiban, lakukanlah.
Hidup adalah kesukaan, nikmatilah.
Hidup adalah adalah lagu,nyanyikanlah.
Hidup adalah janji, penuhilah.
Hidup adalah teka-teki. pecahkanlah.
Hidup adalah kasih, bagikanlah.
Hidup adalah kesempatan, gunakanlah.
Hidup adalah keindahan,bersyukurlah.”

Jumat, 28 September 2012

Renungan InspiratiF

Jika semua yang kita kehendaki
terus kita MILIKI, darimana kita
belajar IKHLAS.

Jika semua yang kita impikan
segera TERWUJUD, darimana kita
belajar SABAR.

Jika setiap do’a kita terus
DIKABULKAN, bagaimana kita dapat
belajar IKHTIAR.

Seorang yang DEKAT dengan
TUHAN, bukan berarti tidak ada AIR
MATA.

Seorang yang TAAT pada TUHAN,
bukan berarti tidak ada
KEKURANGAN.

Seorang yang TEKUN berdo’a,
bukan berarti tidak ada masa masa
SULIT.

Biarlah TUHAN yang berdaulat
sepenuhnya atas hidup kita,
karena TUHAN TAU yang tepat
untuk memberikan yang TERBAIK.

Ketika kerjamu tidak dihargai,
maka saat itu kamu sedang belajar
tentang KETULUSAN.

Ketika usahamu dinilai tidak
penting, maka saat itu kamu
sedang belajar KEIKHLASAN.

Ketika hatimu terluka sangat dalam
maka saat itu kamu sedang belajar
tentang MEMAAFKAN.

Ketika kamu lelah dan kecewa,
maka saat itu kamu sedang belajar
tentang KESUNGGUHAN.

Ketika kamu merasa sepi dan
sendiri, maka saat itu kamu
sedang belajar tentang
KETANGGUHAN.

Ketika kamu harus membayar
biaya yang sebenarnya tidak perlu
kau tanggung, maka saat itu kamu
sedang belajar tentang KEMURAH –
HATIAN.

Tetap Semangat ….
Tetap Sabar ….
Tetap Tersenyum ...
Karena kamu sedang menimba
ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu”
yang sekarang, bukan karena
“KEBETULAN”.

Orang yang HEBAT tidak dihasilkan
melalui kemudahan, kesenangan,
dan kenyamanan.

MEREKA di bentuk melalui
KESUKARAN, TANTANGAN & AIR
MATA, Memang setiap diri kita
terkadang ingin serba instan,
menggapai sesuatu ingin dengan
cepat, tanpa mau bekerja keras,

Padahal setiap keberhasilan akan
selalu ada hambatan, tantangan,
kendala bahkan air mata dan
pengorbanan. Ini semua harus
disikapi dengan kerja keras,
ketekunan, kesabaran, pantang
menyerah dan ketangguhan untuk
hasil yang lebih baik.

Kalaupun memang kita sudah
bekerja keras, tekun, tangguh,
sabar, ikhtiar yang maksimal dan
disertai do’a, namun di mata masih
terlihat gagal, tapi yakinlah di
hadapan Tuhan tidak ada yang sia-sia.
************************

Rabu, 26 September 2012

Spirit Pagi

Saat kau merasa masalahmu semakin rumit dan sulit,
Allah selalu ada di sisimu ...

Saat kau merasa menyesal atas keputusan yang telah kau ambil,
Allah akan ada di sampingmu ...

Saat kau merasa tak ingin melanjutkan hidupmu ...
saat kau mulai tidak percaya terhadap kemampuanmu ...
saat kau mulai frustasi ...
saat kau tak ingin melakukan apa pun ...
saat kau mengalami kegagalan demi kegagalan ...
saat kau pulang dengan tangan kosong dari suatu urusan ...
saat kau tak mendapatkan apa yang diharapkan ...